Rabu, 03 April 2013

KEBIASAAN SABUNG AYAM DAN PENGARUHNYA TERHADAP STABILITAS MASYARAKAT SOSIAL



BAB I
PENDAHULUAN
1.1.  Latar Belakang

Adu Ayam Jago atau biasa disebut sabung ayam  merupakan permainan rakyat dimana dua ayam jago saling di adukan. Permainan ini merupakan perkelahian ayam jago yang memiliki taji dan terkadang taji ayam jago ditambahkan serta terbuat dari logam yang runcing. Permainan sabung ayam pertama terjadi di india dan asia kira-kira tahun 1400 sebelum masehi. Catatan sejarah menunjukkan bahwa sabung ayam digambarkan sebagai jenis burung yang dipergunakan untuk mencegah gangguan iblis di suatu wilayah tertentu. Dan ayam sabung sendiri dinggap suci oleh agama mamu di India.Permainan Sabung Ayam di Nusantara ternyata tidak hanya sebuah permainan hiburan semata bagi masyarakat, tetapi merupakan sebuah cerita kehidupan baik sosial, budaya maupun politik. Meskipun pemerintah telah resmi melarang segala macam perjudian, namun keberadaannya masih ada, bahkan upaya pemberantasannya tidak jarang mendapat perlawanan.
Permainan sabung ayam di pulau jawa umumnya berasal dari cerita rakyat cindelaras yang memiliki ayam sakti yang di undang oleh raja jenggala yang tak lain adalah ayahnya sendiri. Sabung ayam juga menjadi sebuah peristiwa politik pada masa lampau. Kisah kematian Prabu Anusapati dari Singosari yang terbunuh saat menyaksikan sabung ayam. Kematian Prabu Anusapati terjadi pada hari Budha Manis atau Rabu Legi ketika di kerajaan Singosari sedang berlangsung keramaian di Istana Kerajaan salah satunya adalah pertunjukan sabung ayam
Dan di zaman yang modern ini banyak kita jumpai masih ada di sekitar kita tempat sabung ayam dan  perjudiannya khususnya di desa wajak, tulungagug. Dimana di desa wajak permainan sabung ayam yang dulu digelar dalam  rangka upacara dan ritual keagamaan, namun sekarang sudah berubah fungsi. Permainan yang mengandung unsur kalah menang kerap dijadikan taruhan. Itu sebabnya sabung ayam masih diminati masyarakat desa wajak khusunya. Mereka beranggapan bahwa sabung ayam tersebut adalah warisan leluhur dan budaya serta harus dilestrikan. Menurut Redfield (1982)  Meskipun  masyarakat desa telah mengalami perubahan dan perkembangan serta evolusioner, namun kehidupan mereka masih terikat oleh habitatnya, hal ini karena adanya nilai yang dapat mengikat mereka dan mereka memliki sikap yang sangat menghargai nilai sosial yang berlaku serta kebiasaan leluhur yang berlangsung hingga sekarang.
1.2 Rumusan Masalah
1.      Bagaimana asal mula kebudayaan sabung ayam ?
2.      Bagaimana dampak sabung ayam terhadap perilaku sosial masyarakat sekitar ?
3.      Bagaimana pengaruh sabung ayam terhadap sikap remaja disekitar lokasi penyelengaraan ?
1.3 Tujuan Penulisan
1.      Menjelaskan asal mula kebudayaan sabung ayam yang berlangsung hingga sekarang.
2.      Menjelaskan dampak sabung ayam terhadap perilaku sosial masyarakat sekitar.
3.      Menjelaskan pengaruhnya terhadap sikap remaja disekitat lokasi sabung ayam.















BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Asal Mula Kebudayaan Sabung Ayam
Permainan Sabung Ayam di pulau Jawa berasal dari folklore (cerita rakyat) yang populer diberbagai tempat di dunia, seperti perancis, kanada, muangthai, taiwan, jepang, filipina serta indonesia sendiri. Diindonesia permainan sabung ayam bermula dari cerita Cindelaras yang memiliki ayam sakti dan diundang oleh raja Jenggala, Raden Putra untuk mengadu ayam. Ayam Cindelaras diadu dengan ayam Raden Putra dengan satu syarat, jika ayam Cindelaras kalah maka ia bersedia kepalanya dipancung, tetapi jika ayamnya menang maka setengah kekayaan Raden Putra menjadi milik Cindelaras. Dua ekor ayam itu bertarung dengan gagah berani. Tetapi dalam waktu singkat, ayam Cindelaras berhasil menaklukkan ayam sang Raja. Para penonton bersorak sorai mengelu-elukan Cindelaras dan ayamnya. Akhirnya raja mengakui kehebatan ayam Cindelaras dan mengetahui bahwa Cindelaras tak lain adalah putranya sendiri yang lahir dari permaisurinya yang terbuang akibat iri dengki sang selir.
Sabung ayam juga menjadi sebuah peristiwa politik pada masa lampau. Kisah kematian Prabu Anusapati dari Singosari yang terbunuh saat menyaksikan sabung ayam. Kematian Prabu Anusapati terjadi pada hari Budha Manis atau Rabu Legi ketika di kerajaan Singosari sedang berlangsung keramaian di Istana Kerajaan salah satunya adalah pertunjukan sabung ayam. Peraturan yang berlaku adalah siapapun yang akan masuk kedalam arena sabung ayam dilarang membawa senjata atau keris. Sebelum Anusapati berangkat ke arena sabung ayam, Ken Dedes ibu Anusapati menasehati anaknya agar jangan melepas keris pusaka yang dipakainya jika ingin menyaksikan sabung ayam yang diselenggarakan di Istana, tetapi sesaat sabung ayam belum dilakukan Anusapati terpaksa melepaskan kerisnya atas desakan Pranajaya dan Tohjaya. Pada saat itu diarena terjadi kekacauan dan akhirnya peristiwa yang dikuatirkan Ken Dedes terjadi dimana kekacauan tersebut merengut nyawa Anusapati yang tergeletak mati diarena sabung ayam dibunuh adiknya Tohjaya tertusuk keris pusakanya sendiri. Kemudian jenasah Anusapati dimakamkan di Candi Penataran dan kejadian itu tetap dikenang orang, Anusapati adalah kakak dari Tohjaya dengan ibu Ken Dedes dan bapak Tunggul Ametung sedangkan Tohjaya adalah anak dari Ken Arok dengan Ken Umang itu memang diriwayatkan memiliki kesukaan menyabung ayam. Memang dalam cerita rakyat terutama Ciung Wanara mengisahkan bahwa keberuntungan dan perubahan nasib seseorang ditentukan oleh kalah menangnya ayam di arena sabung ayam, begitu juga juga Anusapati bukan kalah dalam adu ayam tetapi dalam permainan ini ia terbunuh. Anusapati bukan kalah dalam adu ayam tetapi dalam permainan ini ia terbunuh.
Sedangkan di Bali permainan sabung ayam disebut Tajen. Tajen berasal-usul dari tabuh rah, salah satu yadnya (upacara) dalam masyarakat Hindu di Bali. Tujuannya mulia, yakni mengharmoniskan hubungan manusia dengan bhuana agung. Yadnya ini runtutan dari upacara yang sarananya menggunakan binatang kurban, seperti ayam, babi, itik, kerbau, dan berbagai jenis hewan peliharaan lain. Persembahan tersebut dilakukan dengan cara nyambleh (leher kurban dipotong setelah dimanterai). Sebelumnya pun dilakukan ngider dan perang sata dengan perlengkapan kemiri, telur, dan kelapa. Perang sata adalah pertarungan ayam dalam rangkaian kurban suci yang dilaksanakan tiga partai (telung perahatan), yang melambangkan penciptaan, pemeliharaan, dan pemusnahan dunia. Dan tradisi ini sudah lama ada, bahkan semenjak zaman Majapahit. Saat itu memakai istilah menetak gulu ayam. Akhirnya tabuh rah merembet ke Bali yang bermula dari pelarian orang-orang Majapahit, sekitar tahun 1200.
Dalam kebudayaan Bugis sendiri sabung ayam merupakan kebudayaan telah melekat lama. Menurut M Farid W Makkulau, Manu’(Bugis) atau Jangang (Makassar) yang berarti ayam, merupakan kata yang sangat lekat dalam kehidupan masyarakat Bugis Makassar. Gilbert Hamonic menyebutkan bahwa kultur bugis kental dengan mitologi ayam. Pada tahun 1562, Raja Gowa X, I Mariogau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipalangga Ulaweng (1548 – 1565) mengadakan kunjungan resmi ke Kerajaan Bone dan disambut sebagai tamu negara. Kedatangan tamu negara tersebut dimeriahkan dengan acara ’massaung manu’. Oleh Raja Gowa, Daeng Bonto mengajak Raja Bone La Tenrirawe Bongkange’ bertaruh dalam sabung ayam tersebut. Taruhan Raja Gowa 100 katie emas, sedang Raja Bone sendiri mempertaruhkan segenap orang Panyula (satu kampong). Sabung ayam antara dua raja penguasa semenanjung timur dan barat ini bukanlah sabung ayam biasa, melainkan pertandingan kesaktian dan kharisma. Alhasil, Ayam sabungan Gowa yang berwarna merah (Jangang Ejana Gowa) mati terbunuh oleh ayam sabungan Bone (Manu Bakkana Bone).
Kematian ayam sabungan Raja Gowa merupakan fenomena kekalahan kesaktian dan kharisma Raja Gowa oleh Raja Bone, sehingga Raja Gowa Daeng Bonto merasa terpukul dan malu. Tragedi ini dipandang sebagai peristiwa siri’ oleh Kerajaan Gowa. Di lain pihak, kemenangan Manu Bakkana Bone menempatkan Kerajaan Bone dalam posisi psikologis yang kuat terhadap kerajaan – kerajaan kecil yang terletak di sekitarnya. Dampak positifnya, tidak lama sesudah peristiwa sabung ayam tersebut serta merta kerajaan – kerajaan kecil di sekitar Kerajaan Bone menyatakan diri bergabung dengan atau tanpa tekanan militer, seperti Ajang Ale, Awo, Teko, serta negeri Tellu Limpoe.          
2.2 Dampak Sabung Ayam Terhadap Perilaku Sosial Masyarakat Sekitar
Pada era saat ini tidak jarang kita jumpai sabung ayam di berbagai tempat, khususnya di desa wajak. Disana masih bisa kita jumpai sabung ayam. Dahulu di desa wajak penyelenggaraan sabung ayam kerap kali berhubungan dengan ritual keagamaan dan hajatan. Namun seiring bergantinya waktu bahwa kebudayaan mempunyai sifat yang berubah dari satu saat ke saat lainnya dalam proses penerusannya dari satu generasi ke generasi berikutnya tak selamanya sama. Bahwa selanjutnya kebudayaan lama berbeda dengan kebudayaan yang baru. Bahwa pengaruhnya terhadap perilaku masyarakat sangatlah terlihat dan itu bisa dilihat dengan berubahnya fungsional dari kebudayaan sabung ayam itu sendiri yang dahulu sabung ayam dijadikan ritual. Pada masi kini fungsi sabung ayam tu sendiri telah beralih fungsi.
. Kebudayaan berasal dari bahasa sansekerta “budhayah” yang berarti hal-hal yang bersangkutan dengan budi dan akal (Soerjono Soekanto,1990). Kita tahu bahwa sabung ayam sendiri merupakan kebudayaan asli indonesia yang sudah ratusan tahun bahkan keadaanya selalu diadakaan saat upacara keagamaan dan ritual-ritual suci. Namun saat ini, Sabung ayam yang dalam pertandinganya selalu ada yang mengalami menang dan kalah, dari hal itu masyarakat menggunakannya sebagai hiburan bahkan perjudian. Seperti di desa wajak Keaadaan perjudian yang penyelenggaraanya dibatasi oleh sejumlah ketentuan seperti harus dilakukan dalam konteks upacara nyatanya belum bisa dilaksanakan semestinya, bahkan keberadaanya semakin marak di area rumah warga yang mempunyai area luas dengan hanya ditutup pagar seng melingkar untuk menghindari dari gerbekan pihak berwajib.
Namun saat ini keberadaan perjudian sabung ayam kian marak bahkan dampak dari sabung ayam tersebut terhadap masyarakat sosial sangat terasa ditambah dalam prakteknya saat ini  para anggota masyarakat yang ikut serta dalam perjudian sabung ayam di desa wajak sendiri telah mendirikan sebuah kelompok atau orgaisasi, serta keuntungan, dan suatu gengsi membuat nya memiliki becking seorang aparat yang membuatnya disegani dan sulit terlacak oleh pihak berwajib. Selain itu dampak yang ditimbulkan bagi masyarakat lain sudah jelas yaitu mengganggu kestabilan masyarakat. Dimana menurut Paul H. Lands, desa itu merupakan daerah yang mana didalamnya ditandai dengan keakraban dan keramahtamahan serta kehidupan masyarakat dari bidang pertanian.
Namun saat ini keberadaan desa tak jauh berbeda dengan perkotaan. Di desa wajak yang banyak warganya hidup sebagai pengangguran ataupun wiraswasta menjadi pemicu maraknya sabung ayam. Masyarakat yang tidak bekerja dan cenderung menghabiskan waktu luang dengan hal hal yang negatif semacam itu. Serta sabung ayam yang membutuhkan banyak ayam. Dimana dalam laga besar dan beberapa ronde yang digelar pemain bisa menghabiskan puluhan ayam jago yang masing- masing harganya  tidak murah. Dan sudah bisa ditebak dampak negatifnya.  Keadaan masyarakat yang banyak menganggur dan hobi bersabung ayam serta membutuhkan banyak dana mau tak mau banyak anggota masyarakat yang melakukan tindakan-tindakan kriminal seperti mencuri merampok atau sebagainya.
Seperti yang terjadi setahun yang lalu di desa wajak sendiri. Bahwa sebulan tindak kriminal pencurian terjadi sebanyak 6 kali dan setelah pelakunya berhasil ditangkap dan dimintai keterangan ternyata faktor yang mempengaruhi tindakan tersebut adalah untuk kepentingan sabung ayam.
Sudah jelas bahwa disamping sabung ayam juga memiliki dampak positif melestarikan budaya leluhur, Sabung ayam lebih banyak sekali menimbulkan dampak yang negatif seperti yang dipaparkan diatas.
2.3 Pengaruh Sabung Ayam Terhadap Sikap Remaja Disekitar Lokasi Penyelengaraan
Sikap menurut Rensis Likerzwart dan Charkes Osgoog (dalam Azwar,1998) diartikan sebagai suatu bentuk atau reaksi perasaan. Sikap seseorang terhadap suatu objek merupakan  perasaan untuk mendukung atau memihak serta perasaan yang tidak mendukung ata memihak. Secara sederhana sikap diartikan seabagai respon terhadap stimulasi sosial yang telah terkondisikan (Azwar,1998).
Dapat digambarkan bahwa sikap hidup masyarakat desa cenderung memiliki perasaa mendukung atau memihak terhap kehidupan dan lingkungan hidupnya. Menurut koentjoroningrat (1985) mentalitas dari masyarakat desa atau petani mempunyai presepsi waktu yang terbatas. Irama waktu yang ditentukan oleh cara-cara ada istiadat untuk memperhitungkan tahap-tahap aktivitas. Begitu juga kehidupan para remaja di desa wajak yang lingkungan hidupnya berada pada lingkaran sabung ayam. Dimana banyak sekali para remaja yang tidak melanjutkan ke jenjang SMP maupun SMA. Mereka lebih berkeinginan bekerja dan menganggur, menghabiskan seluruh waktu hanya bersantai dan terlibat dalam kegiatan sabung ayam. Inilah pengaruh yang disebabkan dari kegiatan sabung ayam, yang telah nyata mempengaruhi sikap dan pola pikir para remajanya. Dimana pola ikir remajanya cenderung tertinggal dibandingkan daerah lainnya. Sikap yang lebih memilih lingkungan sekitar dan ketertarikannya terhadap tanah kelahiran atapun komunitas lokal, menganggap penting ikatan kekeluargaan atau kekerabatan dan keluarga dijadikannya sebagai tumpuhan hidup tanpa pemikiran untuk maju.
Kebiasaan para remaja yang cenderung bergelut dengan lingkungan sekitar tanpa sadar memberikan dampak negatif telah mengubah pola pikir para remaja tersebut. Pengangguran merupakan hal yang biasa disandang oleh para remaja, mereka beranggapak bahwa dari sabung ayam itulah bisa menghasilkan uang secara instan, apabila mereka menang dalam pertandingan. Menurut Friedman (dalam Redfield, 1982) bahwa hidup yang baik tau apa yang dikatakan baik adalah merupakan nilai yang diperoleh dari suatu lingkungan masyarakat. Dan di desa wajak sendiri nyatanya lingkunganlah yang telah mendidik para remaja dengan hal- hal yang negatif, bukan tak mungkin lagi bila tindak kriminal seperti pencurian dan perampokan yang terjadi sebagian besar yang dilakukan oleh para remaja dampaknya dari lngkungan sekitar yang selalu dan setia hari memberikan nilai-nilai serta moral yang negatif.












BAB III
PENUTUP

3.1  Kesimpulan
Permainan sabung ayam adalah permainan yang mengadu dua ekor ayam hingga salah satunya dinyatakan menang. Baik lawannya mati atau si empunya ayam sudah mengaku kalah. Sabung ayam bukan hanya sebagai permainan belaka, akan tetapi digunakan sebagai penanda strata seseorang atau karna gengsi. Seperti di desa wajak permainan sabung ayam yang dulu digunakan hanya untuk ritual dan hajatan sekarang berubah sebagai ajang perjudian.
Dan lingkungan semacam inilah yang mampu memberikan dampak negatif terhadap masyarakat sosial. Semua pola dan tingkah laku dipengarui oleh lingkungan tersebut, serta tindak kriminal un mampu tercipta oleh lingkungan yang memberikan dampak negatif tersebut.
Serta dampak dari lingkungan sabung ayam tersebut tidak terluput mempengarui sikap dan pola tingkah para remajanya. Serta angka pengangguran yang kian merebak salah satu penyumbangnya adalah remaja yang tak mau melanjutkan sekolah dan enggan bekerja. Mereka hanya mengandalkan lingkungan sabung ayam yang memberikan keuntungan secara instan.

3.2 Saran
            Yang hendaknya peredaran kegiatan sabung ayam yang diadakan di desa wajak dibatasi, yaitu hanya digelar dalam kegiatan hajatan saja kembali seperti dulu. Karena kita tahu bahwa dampak dari sabung ayam itu sangatlah negatif dan terasa. Sabung ayam telah mamu memberikan efek negatif ke berbagai kalangan. Kepada masyarakat sosial bahwkan generasi muda yaitu para remaja yang hendaknya memiliki cita-cita namun nyatanya mereka lebih nyaman dengan lingkungan yang begitu membrikan efek negatif semacam itu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar